Asem Manis Harian Si Kriwel
ITRODUCING SI KRIWEL
Hemm, ini gua. Gua yang berperawakan tinggi, sedikit
kurus, dan terlihat agak hitam ini memang mendambakan sebuah karya buku yang
sampai saat ini masih sangat sulit untuk diciptakan. Kata orang Padang itu
susah bana bikinnyo. Tunggu ! Sedikit kurus itu kalimatnya agak berbohong
kepada publik, ya lebih tepatnya kurus. Oke, fine gua terima apa adanya gua. Dan dibalik ketidaksempurnaan seseorang
pasti terselip rasa hibah. Ya, secara langsung gua menyindir diri gua sendiri.
Tidak. Yang gua maksud dibalik kelemahan seseorang pasti terselip rasa syukur
yang dimilikinya.
Well, gua Ganjar , nama yang sedikit agak lucu dibalik gua yang berpenampilan
biasa dan kalem tapi sering bersikap aneh dan kocak. Ya...benar nama itu diberi
oleh kakek gua yang pernah gua dengar dari bokap. Suatu hari ketika gua masih
umur belasan tahun dan masih ingusan, bokap pernah memberi tahu tentang jati
diri gua lewat sebuah nama, gua masih duduk dibangku SD dan terlihat seperti
bocah yang belum menemukann jati dirinya.
Pada suatu malam, layaknya anak kecil yang bercerita pada
bokapnya.
“Jar tau nggak
nama kamu itu artinya apa?”, tanya bokap.
“Gak tahu”, sahut gua dengan enteng.
Eh? Akhirnya gua berdehem. Gua tahu. Akhirnya gua
ngangkat jari telunjuk kayak anak SD jawab pertanyaan dengan semangat.
“Mungkin waktu nyokap hamil, nyokap ngidam genjer kali
terus huruf vokal E diganti A aja biar agak eksis dikit”, jawab gua lugu
Bokap terdiam
sejenak. Mungkin bokap mikir ini anak kok jawabnya rancuh gitu yak.
“Bukan, nama kamu itu punya makna yang dalem lho, kamu
harus bangga dengan nama kamu”, sahut bokap dengan gaya sok coolnya.
“Okeh deh, Emang nama itu punya arti apa , pa?”, tanya
gua lagi.
“Nama kamu itu
mempunyai arti begono ehhhh begini maksudnya”.
bokap menjelaskan secara historis :
Ganjar (etss jangan lupa
satu huruf dibelakang huruf A ya jadi gawat nanti) = pemberian dari Allah
Hariwibowo = Yang berwibawa
Nah lo, kalian pasti sudah tau kan arti dibalik sebuah
nama, dan inilah arti dibalik sebuah nama gua. “Pemberian dari Allah yang
berwibawa”. Gua masih gak ngerti dengan art nama gua..
Gua jadi mikir, oh mungkin gua itu besarnya nanti bakal
jadi kaya terbukti arti terkahir nama gua, yaitu :
wiiii bawa mobil,
wiii bawa duit 5 juta sehari,
wiiiii bawa cewek
kemana–mana.
Haha khayalan tingkat dewa dan mungkin itu bisa jadi
kenyataan karena kan nama adalah doa. Gua percaya mitos itu.
Oke, sekarang
bahas nama sudah selesai dan dilanjutkan dengan pendidikan gua yang gak kelar–kelar
(kayak mahasiswa abadi aja). Sama seperti anak–anak lainnya, gua mengecap
bangku TK, lalu gua melanjutkan dibangku SD. Di masa ini , penuh hal–hal lucu
yang tidak bisa dilupakan. So excited banget. Karena pendidikan bagi gua sangat
penting. Gua lanjut ke tingkat SMP, pada masa ini banyak anak-anak usia dini
kayak gua yang udah kenal namanya jatuh cinta. Pertama adalah papasan
(pandangan pertama), kenalan lewat surat, ketemuan, PDKT, jalan bareng lalu
jadian deh. Pada akhirnya putus dan jomblo manahun. Ngenes kan ?
Memang pada masa
itu, handphone belum begitu populer
dan gua belum diberi kepercayaan untuk memegang handphone. Matilah deh gua, nyari informasi tentang cewek melalui
temen ataupun jejaring kayak ‘friendster’
(terlihat jadul). Itupun kalo gua berhasil, tapi kalo nggak ? kayaknya gua
ditakdirin jomblo (jangannnn).
Setelah lulus dari SMP, gua ikut tes masuk SMA favorit (sebut
saja lemabang daerahnya). Gua ingat pada saat tes, eh waktu itu sehari sebelum
hari H menjelang tes, gua sempet nyari lokasi untuk besok. Gua bersama temen
SMP naik angkot kesana.
Pada akhirnya, kami stop disebuah lorong yang lumayan
cukup besar. Berpikir bahwa ketika udah nyampe lorong, kami pasti bertemu
sekolah favorit yang gua elu-eluhin itu. Tapi ternyata kami salah besar, kami
harus berjalan sangat jauh untuk sampe ke tujuan. Kayak anak kehilangan
induknya, kami pun berjalan dengan sebuah harapan lulus.
Setelah hampir
sampe ke lokasi, gua bertanya ke salah satu tante yang lagi berjalan menuju
lorong yang berlawanan melewati kami.
“Tau SMA 5 nggak
mbak ?”, tanya gua (gua manggil mbak biar tante bahenol itu serasa menemukan
jiwa mudanya yang telah lama hilang)
“Oh SMA yang sering banjir itu , tau dek lurus aja trus
entar ada lorong jalan dikit pas dikanan ada tuh sekolah yang agak sempit itu”,
tante yang sedikit bahenol itu menjawab sambil sedikit mengibaskan rambut ala
Syahrini.
Upss, tanpa basa
basi , gua langsung ngikuti instruksi yang diberikan tante itu.
“Gilakkk, tolooong... ini sekolah kok jauh banget ya, gua
gak sanggup nahan penderitaan ini. Lebih baik gua pulang dan tidur”, sahut gua
dalem hati.
Emang pada saat itu,
motor belum bisa jadi andalan. Semuanya serba jalan kaki. Itulah penderitaan
pertama untuk masuk sekolah ini.
Ω Ω Ω
Setelah masuk sekolah favorit namun sempit dan belajar selama
kurun waktu 3 tahun, gua dinyatakan lulus dan akhirnya gua sempet bingung dan
vakum tidak kuliah selama 1 tahun. Disini adalah proses gua mencari jati diri
yang sebenarnya. Mau dibawa kemana hidup gua ? atau gua ingin menjadi
businessman ? jualan koran ? oh no.
Gua vakum karena
gua ingin tes dan dinyatakan lulus dengan usaha keras gua. Maklum waktu itu
tujuan masih labil dan belum terbayang.
Pada saat itu, gua gagal dan memutuskan untuk ikut tahun
depan. Dan inilah hidup, kalo lo ingin apa yang lo ingini dan itu gagal pasti
itu sakit. Dan yang pasti sakit itu lebih dari sakit hati dan lo harus
perjuangi itu di kesempatan lain. Dan terbukti berkat Allah, temen-temen serta
keluarga gua yang mati-matian memotivasi gua. kerja keras gua yang teramat lelah,
sedikit ragu, sedikit pesimis akhirnya terbayar. Gua akhirnya berhasil dan
masuk di perguruan tinggi negeri favorit disini (sambil joget ala suku
pedalaman).
Finish, gua sekarang duduk di semester 2 awal dan pada
akhirnya hidup memang terlalu cepat berjalan. Gua merasa hidup merupakan
potongan–potongan paprika yang berwarna–warni.
Kita tidak tahu, potongan tersebut akan berlari kemana selanjutnya
dan kita tidak pernah membayangkan suatu saat potongan–potongan inilah yang
ngebuat hidup itu sangat berharga. Gua hampir lupa kenapa gua dijuluki si Kriwel
atau sekedar panggilan teman-teman dekat gua. Begini ceritanya, gua mempunyai
rambut yang dibilang lurus. Itu sangat bohong sekali, dan dibilang kribo, itu
salah besar sekali.
Temen–temen gua nganggap gua punya bentuk rambut yang
sangat unyu sekali dengan tampilan belakang yang mempunyai lekukan kriwel.
Tentu saja gua protes dengan perlakuan seperti itu. Kenyataannya bener, gua
sudah pernah diejek adik sepupu gua yang tinggalnya tidak jauh dari rumah gua.
Adik gua itu main ke tempat gua tentunya bersama nyokapnya. Dia itu
berperawakan gendut dengan perut melingkar seperti ibu–ibu lagi hamil dan
terlihat sangat lucu dengan kepalanya yang sangat bulat dengan kening
mengkilat.
Di ruang keluarga tepatnya berada di tengah rumah. Pada
saat seisi rumah lagi sibuk bercerita entah kenapa bayu (adik sepupu gua)
berkata :
“Mas ganjar kok rambutnya model kayak gitu?”, sahut Bayu
Sontak seisi
manusia di rumah itu menjadi hening dan ayuk gue Vita melanjutkan hinaan itu
seakan dia sangat setuju dengan pernyataan si Bayu.
“Bayu adalah orang ke 10212 yang ngomong kalo rambut mas
ganjar itu aneh“, jawab dia.
Gua diam dan seakan–akan itu adalah sebuah lelucon kecil
dari seorang adik yang baru mau beranjak dewasa. Dan mungkin Bayu bercita–cita
menjadi seorang pelawak terkenal seperti Azis yang gagap dengan membuat
leucon–lelucon kecil dengan mengawali karirnya membuat keluarga seakan
terhipnotis dengan pernyataannya tadi.
Gua hanya diam dan mulai mengalihkan permbicaraan yang
melenceng itu dengan bermain hamster “si Gente” yang baru gua beli.
“Lihat Yu, ini hamster jago main kincir, gua bisa jamin
kalo lo lomba lari sama si Gente, lo bakal pingsan dan mengap-mengap keabisan
nafas”, sahut gua.
“Akhirnya si Gente bakal menang ke garis finish dengan
membawa trophy juara bertahan piala lomba lari didampingi wanita umbrella girl
kayak di Moto GP sambil memakai kacamata dan secangkir ice lemon tea”, gua
bercerita panjang lebar menjelaskan ke Bayu yang terlihat tak mengerti.
“Ah lo, kenapa lo diem? jawab donk”, gua melihat respon
bayu yang gak tertarik dengan cerita gua.
tiba-tiba bayu menepuk perutnya yang terlihat seperti beduk.
“Ya habis, masak gua disamain sama seekor tikus cupu ini
sih. Kan gak fair banget”, sahut bayu protes
“Eh, jangan salah ini bukan tikus, ini hamster yang
hidupnya lebih bersih dari lo”, Jawab gua enteng.
“Ya udah deh”, kata Bayu sambil berlalu mengejar
nyokapnya yang sebentar lagi akan pulang.
Ω Ω Ω
Nah sejak kejadian itu gua mulai tersadar, apa betul yah
kalo rambut gua menyimpan misteri yang tak bisa diungkapkan, apa iya rambut gua
itu memang kriwel seperti yang dibilang bilang temen kuliah gua. Gua menghela
nafas sebentar dan gua berlalu menuju kamar sambil menutup pintu dan berhenti
di hadapan kaca yang biasanya gua pakai untuk ngelap ingus yang keluar dari
hidung gua.
“Enggaaaaaakkk,
itu bukan gua !!!
Orang–orang salah
dalam melihat gua. Gua mungkin terjebak dalam dua manusia yang satu emang
rambut kriwel dan satu rambutnya emang klimis seperti biasa.
Lama-kelamaan akhirnya gua memahami arti semua ini. Gua
sadar kalo emang rambut gua panjang akan terlihat seperti itu, mempunyai lekukan
yang melengkung seperti permen warna-warni berbagai bentuk yang sering dijual
di mall–mall (lolypop)
Apa yang harus gua lakukan ? apakah gua harus mencoba gaya rambut tren masa
kini. Ataupun gua harus mencukur habis rambut gua yang sangat gua sayangi ini?
Biar alam yang menjawab.
Oh Tuhan, apakah ini pertanda bahwa gua harus merelakan
rambut gua yang unyu ini? Tidakkkkkkkkkk !!!!
Kemudian
Gua duduk dikasur dan mencoba mencari ide semua ini.
“Gimana kalo gua potong rambut sedikit pendek dan masih
terlihat seperti biasanya”,tanya gua dalem hati.
Perlu diketahui, bahwa gua tuh gak banget yang namanya
potong rambut dan setiap temen– temen gua nyuruh untuk potong rambut, gua selalu
mengindahkan dengan berbagai alasan.
Ini alasannya
gua gak mau
terlihat eksis atau sok gaya dengan mengubah gaya rambut !!!
Padahal alasan itu cuma buat orang–orang berpendapat
bahwa oke si Kriwel emang percaya diri dengan tampilan rambut supernya.
Pernah di suatu jejaring sosial twiitter gua membuat
sebuah tweet.
“Gua emang Kriwel
oke it’s me”.
Itu kayak manusia
yang krisis kepercayaan diri terhadap dirinya sendiri. Dan di status twitter
yang lain, gua berkata
“Gua harus potong rambut hari ini“
tweet itu dilihat
oleh salah seorang temen gua yang bernama Jono. Padahal saat itu, gua nggak
jadi potong rambut dan memutuskan sampai waktunya tiba kelak.
Tiba hari esok dan
saatnya gua untuk kuliah. Seperti biasanya, gua kuliah bertemu dengan
temen–temen deket gua. Dengan gaya sok cool dan sangat tidak melihat situasi, Jono
melontarkan pertanyaan.
“Eh jar kirain lo
udah potong rambut”,tanya Jono
“Hah ? Gua potong
rambut ? Nggak ! santai rambut gua masih keren kok. Jadi, belum saatnya
berubah”, jawab gua
Oh tidak , gua
berpikir bagaimana besok setelah gua memutuskan potong rambut. Apakah mereka
bakal ketawa jerit–jerit sampe gedung–gedung ini roboh, atau mereka bakal
surprise dan tidak berkomentar suatu apapun. Hah ? gua berpikir di sepanjang
jalan menuju kantin setelah selesai kuliah. Saat itu, udara disekitar sangat
panas, daun-daun berjatuhan disekeliling jalanan dan kami memutuskan untuk
mengakhiri hari ini di sebuah kantin.
Selesai makan
“Okeh bro, gua
pulang”, sahut gua dengan temen–temen yang lain.
Maklum jarak
kampus gua dengan rumah sangatlah jauh. Kampus gua berada di sebuah desa yang
jaraknya cukup jauh, ya lebih tepatnya jauh dari kota tempat gua tinggal. Jadi,
gua dan temen-temen harus mudik hampir tiap hari untuk mencari sesuap nasi. Eh,
salah sesuap ilmu. Taulah yah yang
kuliah di desa seberang sana nun jauh dan panas.
Waktu itu pukul 01.00 siang dan kami menuju sebuah
terminal untuk naik bus menuju kota. Sangat melelahkan, ditambah dengan cuaca
yang sangat gersang. Ya udah, jadillah gua seorang manusia dari planet
antabrata. Hitam nan mengkilat. Perjalanan untuk sampe ke kota memakan waktu 1
jam. Itupun kalo kondisi jalan dalam keadaan lancar. Pernah suatu waktu,
jalanan sangat macet parah dan tepatnya gua mau kuliah pagi. Emang sebelumnya,
di waktu shubuh gua sempet check timeline di twitter gua. Ada seorang temen yang
ngasih info kalo dia terjebak macet dan kondisi macet sangat parah. Info itu
gak gua sia-siain, gua langsung retweet dan ini bentuknya :
“Macet parahhhhhhhh !! dari
malem sampe shubuh baru nyampe indralaya. Gilak !! yang mau kuliah mending gak
usah” !
Dengan nada enteng gua langsung nge
retweet ni tweet
Apa ? parah ya ? bales gua.
Nada itu adalah nada ketidakyakinan dari seorang manusia berambut kriwel
dan gua emang sebenernya kurang percaya kalo macet separah itu. Maklum masih
junior di dunia perkuliahan.
Setelah dibales dengan penuh keyakinan bahwa memang
kondisi sekarang di indralaya macet, gua acuh dan seperti biasa gua mandi,
sarapan, manasin motor dan pergi tanpa ragu. Eh gua kuliah kesana bukan naik
motor tapi gua nitip motor di sebuah kampus juga yang ada di kota lalu naik
sebuah bus untuk mencapai kampus. Emang bener ya kata pepatah cina ‘kejarlah
ilmu sampai ke negeri cina‘ tapi boro–boro ke cina , ini aja kaki gua udah mau
lepas ngejalani hari-hari. Apalagi untuk ngerebuti bangku didalem bus. Sumpah !susah
nya minta ampun, kita harus rela lari-larian ngejer bus, didorong bahkan
ditimpuk tas karena perebutan bangku. Ya mungkin itu yang namanya perjuangan
dan gua harus kuat walaupun bener emang miris dan susah. Apalagi kalo pulang
kuliah rada sorean, manusia yang pengen pulang kayak kesetanan demi perebutan
satu bangku.
Setelah mendapat bus dan
jalan, seperti biasa bus yang beruntung dapetin gua (ini random apaan yach) berjalan
dengan tenang dan santai. Jalanan terlihat sepi dan arus kelihatan normal. Tiba
disuatu tempat tidak jauh dari sebuah terminal kota, jrengggg mobil–mobil suda
bergelimpangan dijalan. Motor–motor tak tahu lagi mengarah kemana dan kami
hanya terdiam meratapi nasib dan galau antara kuliah tapi nyampenya kapan atau
muter arah tapi sudah terjebak macet parah.
Yaa mampus deh gua , mana
disebelah gua anaknya gak asik diajak ngobrol pulak. Gua biasanya pergi kuliah
dengan temen gua bernama Aji, dia emang orangnya pecicilan dan selalu
berpikiran negatif. Iya betul , selalu memandang sesuatu dari sisi negatifnya.
Gua gak habis pikir dengan ide–ide cemerlang luar biasa dia, tapi sumpah terlalu
negatif untuk dijalanin.
Tapi entah kenapa kali ini gua emang terpisah dari dia.
Gua duduk sedikit di depan dan Aji duduk agak ke belakang. Emang misi kami
duduk berpisah karena pada waktu berebut bangku bus, Kami ingin memberi satu
bangku di sebelah tempat kami duduk pada orang yang pas. Yaitu cewek cantik nan
aduhai. Rencana Aji kali ini gagal, dia duduk dengan seorang cowok dan gua
tertawa melihat kejadian itu.
“Mampus lo ji emang enak”,
sahut gua
Back to traffic jam
Melihat kondisi yang sangat macet dan sangat chaos itu, gua hanya bisa diam
memandangi orang-orang yang turun dari mobil karena frustasi dan akhirnya jalan
menuju kota lagi deh untuk pulang. Mampus deh gua, gimana kalo macet ini sampe
malem dan gua masih terjebak disini. Gua mati kelaperan dan gua didiemin orang
di bus ini setelah ditemuin selama 3 hari dalam keadaan mati lemes. Parah, gua
harus bertindak. Selang beberapa menit , gua langsung bbm Aji dan bilang
Ji ini gimana ? mati
kelamaan nunggu deh kayaknya kita kalo begini trus !
“Yaudah tungguin aja nasib
lo, mungkin ada kuda putih yang jemput lo trus lo terbang deh pulang”, Sahut Aji
Enak aja lo emang gua apaan
nungguin sesuatu yang gak pasti, enakan gua jalan kaki deh.
Hening
Okeh kalo itu maumu, jalan
kaki sono muter, palingan kaki lo segede kaki gajah trus pas nyampe rumah pecah
deh.
Eh
“Eh, gimana kalo kita jalan trus nyamperin si Jono tuh”,
tanya gua
“Emang dia dimana”,
Aji balik nanya
“di fantasy
island”, jawab gua sambil minum air putih yang gua telen bersamaan debu jalanan
waktu itu.
Ω Ω Ω
Oke akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari bus dan
berjalan ke depan menuju sebuah wahana bermain. Di tengah jalan, gua ngelihat
banyak mobil yang penumpangnya orang–orang ingin wisuda hari ini. Gilakkk, di
saat hari yang dinanti buat lepas yang namanya kuliah, masih aja ada halangan
yang ngehadang.
“Eh iya hari ini wisuda kan ?”, tanya gua ke Aji.
“Iya kesian amat yah, orang–orang yang tidak beruntung
itu. Masak iya, mereka harus jalan menuju kampus dengan keadaan toga dikepala
dengan baju kebaya, Kesannya gak atlit abis”, sahut Aji.
Setelah sampai
disana, kami bertemu Jono dan yang lain. Kemudian kami berencana jalan memutar
arah menuju pulang.
Gua memberi instruksi secara seksama
dan terlihat ngawur
“Okeh kita jalan menuju
jalan yang terang, kita lurus dan ketika ada mobil menuju arah kita, langsung stopin
dengan dua jempol”, sahut gua memberikan ide.
“Eh dua jempol kesannya kita
joki kali pakeg gitu-gituan”, Sahut yang lain.
“Yaudah yang penting kita selamat dari yang lain dan kita
bisa tidur dirumah masing-masing oke ?”, gua berusaha ngeyakinin bocah-bocah
yang miskin kepercayaan.
“Okeh”, sahut
mereka.
Ω
Akhirnya kami pun jalan dan di tengah perjalanan, kami
ketemu bus yang sangat memacu adrenalin dengan 2 orang pengamen didalamnya.
Okeh ini adalah kesempatan yang tak datang dua kali. Gua, Jono dan Aji naik
lalu duduk di depan 2 pengamen yang tampangnya gak nyantai. Gua tahu segi
tampang memang beda dengan kelakuan. gua coba memahami hal itu. Bus ini pun
jalan dan akhirnya tiba di suatu perempatan, gua berpisah dari Jono dan Aji.
Mereka turun dan lanjut dengan bus lain sementara gua nyantai nyari tempat perhentian
yang agak jauh.
Setelah sekitar 3 jam dari susasana yang chaos dan kacau
itu , gua pun sampe ke rumah dengan kaki sedikit pincang karena terlalu lama
duduk di dalem bus, pantat gua ngeluarin semacam asep yang tidak enak. Hari itu sangatlah membingungkan, kita tidak
tahu apa yang bakal terjadi ke depan dan kita pun kadang lupa menyadari hal
itu.
Mungkin sebatang coklat
dapat menuntaskan perjalanan hari ini.

Komentar
Posting Komentar