Ramadhan di tengah Pandemi COVID-19
Ramadhan kali ini terasa amat berbeda. Sungguh suasana yang saya rasakan berbeda dengan ramadhan yang lalu. Di tengah pandemi Virus COVID-19 yang tengah melanda Indonesia, Kita dihimbau Pemerintah untuk menjaga jarak dengan satu sama lain, Tidak boleh melakukan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, Beberapa pekerja melakukan pekerjaan di rumah dan masih banyak hal lainnya. Kenapa semua ini dilakukan ? jawabnya adalah untuk memutus mata rantai pemyebaran Virus Corona. Ramadhan pun telah tiba namun tanda-tanda pandemi ini akan berakhir pun belum terlihat. Pemerintah pun menegaskan untuk melarang mudik pada saat menjelang lebaran di Ramadhan tahun ini. Sungguh tahun ini sangat berbeda. Di kesempatan kali ini saya ingin mengutarakan beberapa pandangan terhadap situasi yang melanda di negara yang kita cintai ini.
1. Pemerintah telah melakukan beberapa Himbauan, Aturan dan Sosialisasi guna untuk melakukan pemutusan mata rantai COVID-19.
Pemerintah saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan penghentian mata rantai penyebaran virus ini. Banyak peraturan yang dibuat, mulai dari mengampanyekan Stay At Home, melakukan penggunaan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak satu sama lain, Tidak keluar rumah kecuali untuk hal yang mendesak dan ketentuan lainnya. Ya, Saya rasa pemerintah harus mengambil langkah tegas dan cepat untuk menaggulangi virus ini. Peran pemerintah sangat sentral untuk mendisplinkan masyarakat agar mau mengikuti himbauan dan memahami berbahanya virus ini serta menyadari bahwa semua orang dapat tertular virus Corona tanpa terkecuali dan memandang apapun. Tetapi ada di beberapa poin Pemerintah agak sedikit lamban dalam membuat aturan dan sedikit terlihat ragu-ragu dalam pengambilan keputusan dimana ada aturan yang harusnya tegas dilarang mana yang boleh dilakukan sehingga masyarakat tidak terlihat bingung apalagi mengabaikan aturan yang telah dibuat.
2. Sikap Masyarakat terhadap Pandemi
Pada awal kasus Corona pertama kali muncul di Indonesia, saya rasa masyarakat belum terlalu khawatir karena mereka menganggap bahwa virus corona belum sampai ke daerahnya baik itu Provinsinya, Kota atau Kabupaten tempat mereka tinggal. Jalanan masih terlihat ramai, Karyawan masih bekerja seperti biasa, beberapa cafe terlihat buka dan ramai dengan muda mudi yang terlihat sedang bercanda, Pengunaan masker pun belum terlihat massif. Pada saat awal Virus Corona yang hanya melanda Cina Khusunya Wuhan pun, Virus Corona ini masih menjadi bahan candaan di beberapa sosial media. Setelah itu, Corona pun mulai melanda berbagai Negara, Sempat saya membaca kontroversi bahwa pada saat Indonesia belum mengkonfirmasi Pasien Positif Corona, Beberapa Negara pun mempertanyakan keabsahan tersebut salah satunnya Australia dan Peneliti dari Harvard. Saya memahami kesangsian Australia ini Karena dengan penduduk Indonesia yang sangat banyak, Adanya Penerbangan Langsung dari dan menuju Cina, Banyak Turis Asing yang keluar masuk Indonesia. Saya rasa Australia bisa menaruh rasa curiga terhadap kondisi Indonesia ini. Perlahan namun pasti Corona telah masuk ke Indonesia, Setiap hari ada laporan Kasus Positif,, ODP dan PDP. Pemerintah terus menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan, Menggunakan Masker dan jangan keluar rumah bila tidak mendesak. Sikap Sadar dan Patuh terhadap Aturan adalah hal yang sangat penting di tengah kondisi ini. Masyarakat diminta mengkuti Panduan Pemerintah, Tetapi permasalahan tidak semudah itu, Kondisi Ekonomi yang rumit menjadikan Aturan yang dibuat tidak semudah implementasinya,
Ramadahn kali ini mengajarkan kita untuk tetap bersyukur dan menerima kondisi yang kita alami bahkan dunia pun merasakan. Di tengah Pandemi ini, Kita bisa berkumpul dengan Keluarga lebih banyak dan lebih intens. Kita bisa melakukan Ibadah dengan khusyuk, kita menyadari bahwa menjaga kesehatan itu penting dan pada akhirnya, menerima ketentuan yang ditetapkan adalah bentuk rasa syukur di level tertinggi.
Ganjar Hariwibowo, 26 April 2020
Komentar
Posting Komentar