Malu ? Buang jauh-jauh

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat seorang marketing yang sedang menyebar brosur di tengah terik matahari yang menyengat di tengah kulitnya yang semakin lama semakin kotor, hitam dan dengan pakaian yang terkadang lusuh ? Terus bagaimana pendapat kalian dengan seseorang yang bekerja sebagai penarik becak di era yang mengandalkan transportasi serba cepat dan praktis ini? Ya, saya ingin berbagi mengenai sikap malu yang masih menganggu pikiran-pikiran anak-anak muda di umur 20 tahunan ke atas dan mengenai pola pikir mereka tentang sebuah profesi. Saya dulu juga termasuk orang yang skeptis dan cenderung memandang sebelah mata pekerjaan-pekerjaan yang terlihat di mata orang lain tidak bergensi dan tidak mempunyai kebanggaan ketika menggelutinya. Saya juga orang yang cenderung takut untuk berkutat dengan yang namanya pekerjaan marketing dan sales pada sebuah perusahaan kecil atau korporasi yang sudah mempunyai nama. Entah kenapa, sebagian besar masyarakat Indonesia rasanya memiliki pemikiran yang sama dan beberapa dari orang-orang akan sependapat dengan saya mengenai paradigma dan stigma ini. Benar saja, ketika ibu-ibu berkumpul pada sebuah sosial komunitasnya, maka yang dibicarakan adalah anak-anaknya yang sukses dimana jarang sekali ibu-ibu membicarakan profesi anaknya ketika anaknya bekerja sebagai marketing atau usaha kecil-kecilan yang dirintis. Ya, inilah masyarakat Indonesia yang telah terbangun dan mengakar dengan sebuah pikiran sosial yang padahal tidak semuanya sesuai. Atau ada lagi orang tua yang tidak menyetujui anaknya dinikahi lantaran calon mantunya itu bekerja yang tidak sesuai dengan ekspektasi dia karena tidak mempunyai pekerjaan yang tetap dengan perusahaan yang sudah mempunyai nama besar dan bergengsi. Well...well, ini adalah salah satu dari beberapa alasan anak muda di zaman sekarang ini masih banyak yang menganggur, mereka beralasan ingin berkarir di perusahaan yang besar dengan segala impiannya. Padahal bila kita lihat lagi, apa yang salah dari sebuah profesi marketing, begitu menjijikan kah profesi tersebut sehingga kita enggan untuk mendekati profesi tersebut? Apakah kita malu dengan hal tersebut dan cenderung menyembunyikan identitas profesi kita ketika bertemu dengan lingkaran pertemanan untuk sekedar silahturahmi? Apakah kita malu untuk mengatakan nama usaha kita yang kita rintis dari kecil karena nama usaha tersebut tidak sefamiliar dan sepopuler nama perusahaan tempat teman-teman kita bekerja. Well. paradigma ini seharusnya harus dihapuskan.
Saya sekarang mencoba memahami dan terus memahami rumus kehidupan yang harus kita cari sendiri dan menemukan formula yang pas pada kehidupan manusia yang berbeda-beda. Saya mencoba memahami bahwa pekerjaan apapun terlepas apapun profesinya ketika telah mendapatkan unsur halal dan baik maka pekerjaan atau profesi itu layak diperjuangkan. Saya akan balik bertanya kepada orang-orang yang merasa  bahwa mereka bekerja di perusahaan terkenal dengan gaji yang besar sekarang. Apakah kamu bangga dan yakin terlepas dari unsur riba?  Apakah banggamu cuma sebatas dunia yang hanya sementara ini? terlepas dari itu semua, itu adalah pilihan, pilihan yang membuat kita mempunyai jalan kehidupan. 
Pada akhirnya, Jangan pernah malu untuk apa yang telah kita dapat dengan perjuangan. Ketika itu telah memenuhi unsur halal dan baik serta menghasilkan dan bermanfaat. Teruskanlah.... Karena malu pada dasarnya adalah ketika mencuri, korupsi atau memakan hak orang lain, narkoba serta pertanggung jawabannya kepada sang pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asem Manis Harian Si Kriwel

Introvert Look Like

Definisi Kesuksesan